KH.Syahabuddin adalah cucu
dari Syekh Abd.Wahhab (Puayi Toa), Ayahnya bernama KH.Bukhari bin Syekh
Abd.Wahhab. Beliau lahir di Pambusuang kemudian hijrah ke Polewali untuk
mengikuti jejak ayahnya untuk berdakwah dan membuka pengajian disana sampai wafat. Namun sebelum hijrah ke Polewali beliau
sempat menjabat Imam di Pambusuang dan memimpin pengajian pada tahun 1922
sampai 1934 m.
KH.Syahabuddin yang juga dikenal dengan sebutan Annangguru Hawu saat memimpin pengajian kitta’ juga terkenal berani melawan penjajah Belanda, beliau pernah memimpin demonstran atau unjuk rasa terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1934 KH.Syahabuddin dibantu menantunya bernama Daenna Ma’ata yang saat itu menjabat Kepala desa Pambusuang mendatangi kantor Kontroleur Belanda di Polewali mengajukan protes keras terhadap Belanda yang bertindak sewenang-wenang, memaksa rakyat bekerja keras dalam pembuatan jalan poros Polewali ke Mamasa.
KH.Syahabuddin yang juga dikenal dengan sebutan Annangguru Hawu saat memimpin pengajian kitta’ juga terkenal berani melawan penjajah Belanda, beliau pernah memimpin demonstran atau unjuk rasa terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1934 KH.Syahabuddin dibantu menantunya bernama Daenna Ma’ata yang saat itu menjabat Kepala desa Pambusuang mendatangi kantor Kontroleur Belanda di Polewali mengajukan protes keras terhadap Belanda yang bertindak sewenang-wenang, memaksa rakyat bekerja keras dalam pembuatan jalan poros Polewali ke Mamasa.
Sementara itu di Pambusuang juga
terjadi pergerakan yang dipelopori KH.Abd.Fattah (Paman KH.Syahabuddin), akibatnya
banyak ulama Annangguru yang ditangkap dan diasingkan, termasuk Annangguru Hawu
dan Annangguru Abd.Fattah dipenjarakan di Polewali. Maka pada saat itu Jabatan
imam dan kepemimpinan pengajian diserahkan kepada kemanakannya Habib Hasan bin
Alwy bin Sahil.dalam kepemimpinannya Habib Hasan bin Sahil mendirikan sebuah
Madrasah, yakni Madrasah Arabiyah Islamiyah pada tahun 1937.
Dalam memimpin pengajian
KH.Syahabuddin sangat terkenal wara’. Dikisahkan, pada suatu waktu beliau
menelaah sebuah kitab, namun ketika sampai pada sebuah kalimat, beliau tidak mampu
memahami apa maksud kalimat tersebut.
Kemudian beliau diam sejenak lalu memanggil istrinya dan bertanya dengan bahasa
mandar:
O Kindo’na! Apa anna masse laher kitta’u, dian
di mallau’i naun di andeu anu marese? Maka istrinya menjawab: Andan
dian puang.
Annangguru Hawu bertanya: Pi’angaranni
rei lao! Lalu istrinya terdiam, tak lama kemudian istrinya menjawab: Sangga’
iya tappa ditu’u riwattu’u millamba sau di bonde, tappana mimbalia manduruma
mesa buah lemo.
Annangguru Hawu bertanya: Ya
mupirau hallal bandi? Istrinya menjawab: Mi’illon banda dai diboyanna to punna
lemo tapi andan dian suara mambalia, jari malaima. Kemudian KH.Syahabuddin
menyuruh kembali istrinya untuk minta dihalalkan pada yang punya pohon jeruk
tadi. Akhirnya setelah dihalalkan maka Annangguru Hawu kembali melanjutkan
muthala’anya dan langsung bisa memahami kalimat tersebut. Allahu a’lam
bishshowaab.
Tabik,
Dibawah Kaki Gunung Lego
Mustaqim Alwy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar