Senin, 29 Juni 2020

Mengenal KH.Syahabuddin

                                               

           
 
                                                                                                                                                      

KH.Syahabuddin adalah cucu dari Syekh Abd.Wahhab (Puayi Toa), Ayahnya bernama KH.Bukhari bin Syekh Abd.Wahhab. Beliau lahir di Pambusuang kemudian hijrah ke Polewali untuk mengikuti jejak ayahnya untuk berdakwah dan membuka pengajian disana sampai  wafat. Namun sebelum hijrah ke Polewali beliau sempat menjabat Imam di Pambusuang dan memimpin pengajian pada tahun 1922 sampai 1934 m.

KH.Syahabuddin yang juga dikenal dengan sebutan Annangguru Hawu saat memimpin pengajian kitta’ juga terkenal berani melawan penjajah Belanda, beliau pernah memimpin  demonstran atau unjuk rasa terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1934 KH.Syahabuddin dibantu menantunya bernama Daenna Ma’ata yang saat itu menjabat Kepala desa Pambusuang mendatangi kantor Kontroleur Belanda di Polewali mengajukan protes keras terhadap Belanda yang bertindak sewenang-wenang, memaksa rakyat bekerja keras dalam pembuatan jalan poros Polewali ke Mamasa.
Sementara itu di Pambusuang juga terjadi pergerakan yang dipelopori KH.Abd.Fattah (Paman KH.Syahabuddin), akibatnya banyak ulama Annangguru yang ditangkap dan diasingkan, termasuk Annangguru Hawu dan Annangguru Abd.Fattah dipenjarakan di Polewali. Maka pada saat itu Jabatan imam dan kepemimpinan pengajian diserahkan kepada kemanakannya Habib Hasan bin Alwy bin Sahil.dalam kepemimpinannya Habib Hasan bin Sahil mendirikan sebuah Madrasah, yakni Madrasah Arabiyah Islamiyah pada tahun 1937.

Dalam memimpin pengajian KH.Syahabuddin sangat terkenal wara’. Dikisahkan, pada suatu waktu beliau menelaah sebuah kitab, namun ketika sampai pada sebuah kalimat, beliau tidak mampu memahami apa  maksud kalimat tersebut. Kemudian beliau diam sejenak lalu memanggil istrinya dan bertanya dengan bahasa mandar:
O Kindo’na! Apa anna masse laher kitta’u, dian di mallau’i naun di andeu anu marese?        Maka istrinya menjawab: Andan dian puang.
Annangguru Hawu bertanya: Pi’angaranni rei lao! Lalu istrinya terdiam, tak lama kemudian istrinya menjawab: Sangga’ iya tappa ditu’u riwattu’u millamba sau di bonde, tappana mimbalia manduruma mesa buah lemo.
Annangguru Hawu bertanya: Ya mupirau hallal bandi? Istrinya menjawab: Mi’illon banda dai diboyanna to punna lemo tapi andan dian suara mambalia, jari malaima. Kemudian KH.Syahabuddin menyuruh kembali istrinya untuk minta dihalalkan pada yang punya pohon jeruk tadi. Akhirnya setelah dihalalkan maka Annangguru Hawu kembali melanjutkan muthala’anya dan langsung bisa memahami kalimat tersebut. Allahu a’lam bishshowaab.


Tabik,
Dibawah Kaki Gunung Lego

Mustaqim Alwy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam Janggoq Pionir Persuteraan di Mandar

Imam Janggoq, tengah mengenakan surban Orang tua ini, berkulit hitam kemerah-merahan, pipinya berkerut-kerut, ...