Jumat, 05 November 2021

Imam Janggoq Pionir Persuteraan di Mandar



Imam Janggoq, tengah mengenakan surban
Orang tua ini, berkulit hitam kemerah-merahan, pipinya berkerut-kerut, rambut yang tinggal sedikit itu otomatis memutih, dengan gigih sekali memelihara ulat, beribu-ribu banyaknya. Dan beribu-ribu meter sutera alam telah diproduksi olehnya. Ia dibantu sepenuhnya oleh isterinya dan seorang putrinya, pekerja-pekerja ulet bertangan halus. Hampir-hampir tak pernah alpa dalam sehari memindahkan ulat nan lembut itu, memberinya makan dengan daun-daun khusus (murbei), mengolah sutra hadiah sang ulat, sampai menjadi kain dalam segala macam corak dan warna.
Bagi beliau (K. H. Ahmad Alwy) berhujan atau dibakar matahari pergi mengambil daun-daun murbei, sampai-sampai ke Mombi, adalah soal biasa. Mengendarai sepeda tua bercat hijau.
Bicara soal-soal ulat sutera yang menghasilkan sutera asli ini, berkat pengalaman sepuluh tahun dan pendidikan di bidang persuteraan selama sepuluh bulan di Bandung (1962), beliau sudah sangat mahir. Mulai dari sejarah ulat sejak dahulu kala, sampai menjadi industri rumah tangga di Tanah Cina dan negeri-negeri lain, hingga sekarang ini. Karena beliau selama masa jabatan sebagai Imam yang sudah puluhan tahun itu telah mengawinkan manusia berjumlah ribuan, terhadap “pangeran dan putri” ulat sutera pun telah beribu telah dikawinkan oleh beliau.
Karena ketahanan beliau dalam pemeliharaan ulat sutera yang ringan sejak tahun enam puluh tiga hingga kini dan semakin diperbesar (ditingkatkan), tidaklah berlebihan apabila dikatakan di sini, beliaulah salah seorang pelopor yang berhasil di bidang persuteraan alam di daerah Mandar. Diakui kebenarannya bahwa menjelang kedatangan beliau di Tinambung untuk menjadi Imam Mesjid Jami’. Beberapa orang telah mulai menanam murbei dan 3-4 bulan berikutnya memelihara ulat. Tapi kenyataan selanjutnya mencatat, semuanya gagal dalam mengembangkan usaha tersebut. Ketika Pak Imam yang memulai tantangan demi tantangan ditundukkan olehnya. Dan hasilnya pun, Alhamdulillah. Puluhan ribu pohon murbei kini bertebaran di dalam daerah Kecamatan Tinambung dan persiapan Kecamatan Tutallu.
Pendidikan
Pertama sekali mengenal huruf-huruf Al Quran di bawah bimbingan dan asuhan ayahanda beliau dibantu pamannya, KH. M. Yasin (lebih populer dengan nama Annangguru Kacing, telah menjadi warga negara Arab Saudi). Di masa kecil itu juga sekaligus beliau diajari Nahwu Sharaf. Kawan-kawan sepengajian beliau diantaranya Bapak K. H. Muhammad Saleh, H. Abdul Razak dan H. Abdul Kadir. Amat berjasa memberikan ilmu-ilmu agama kepada beliau dan kawan-kawannya waktu itu ialah KH.Muhammad Ghalib (Annangguru Gale). Setelah beliau lepas dari pendidikan dasar ini, dipelajarinya ilmu Hadis, ilmu fiqih, usluhuddin dan lebih memperdalam Bahasa Arab kurang lebih tujuh tahun. Guru beliau ialah Al Muhtaram Habib Hasan bin Sahil. Serentak dengan ini belajar ilmu tafsir kepada K H. Syahabuddin.                                                                                                                                       
Jadi Imam                                                                                                                                          Jabatan sebagai imam mesjid terbagi dua periode. Periode pertama dari tahun 1936 – 1942, menggantikan ayahanda beliau yang meninggal di tahun 1936, tepat 1 Ramadhan. Meninggal di dalam Mesjid Tinambung, sementara memimpin jama’ah tarwih (imam) pada shalat witir. Selama periode pertama sebagai Imam Mesjid Tinambung, beliau mengajar anak-anak sekolah agama (sekolah arab istilah dulu). Tempat belajar di ruangan Mesjid Tinambung. Bersama-sama dengan beliau waktu itu, sekarang masih hidup, bertempat tinggal di Polewali, Al Ustaz Abdul Hafidz.Seorang veteran Ketika Jepang masuk menjajah tanah air kita dan beliau tidak lagi memegang jabatan imam, beliau memasuki organisasi Jami’atul Islamiyah. Tahun 1945, Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Indonesia merdeka. Dengan mempertahankan tegaknya republik yang masih sangat muda itu, segera beliau terjun kembali ke dunia pergerakan, dunia politik yang memang dahulu dimasukinya, ketika beliau masih muda remaja (tahun 1929 menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia, PSII). Di tahun-tahun revolusi, masuk KRIS Muda. Karena perjuangan beliau dengang masa bakti 4 tahun 2 bulan, berdasarkan SK Menteri Urusan Veteran, 25 Juli 1962, No. 021/P/Kpts/MUV/62, H. Ahmad Alwy resmi jadi Veteran Republik Indonesia, Golongan A.
Di tahun-tahun revolusi yang berkecamuk itu jugalah, beliau menjelajahi pulau-pulau yang bertebaran di Selat Makassar. Selalu berhubungan dengan salah satu pusat perjuangan di Jawa, kemudian menghubungi lagi “kaum extremis” di Sulawesi Selatan. Terjadi di tahun 1947, 18 Agustus, beliau dan kawan-kawannya menenggelamkan perahu musuh yang membawa senjata 12 pucuk. Kawan-kawan beliau yang aktif di pulau-pulau Selat Makassar mempertahankan kemerdekaann diantaranya Syed Hasan bin Tahir dari Ternate (akhirnya meninggal dalam penjara penjajah), Abdul Hakim dan Amin Slamet dari Goa. Kedua orang terakhir disebut, masing-masing sebagai guru sekolah. Tahun 1959 beliau bekerja pada Kantor Legiun Veteran Cabang Mandar yang berkedudukan di Makassar di bawah pimpinan H. R. Amin Daud. Tahun 1962 bulan Maret diutus ke Bandung mempelajari persuteraan alam. Dan akhir yang sama kembali ke Ujung Pandang Imam Mesjid Raya Tanggal 3 Januari 1963, Bapak kita ini diserahi lagi tugas berat tapi mulia, jadi imam di Tinambung (periode kedua). Jabatan ini terus menerus dipegangnya, walaupun usia sudah lanjut, sampai sekarang. Tetapi orang tua kita ini sungguh memiliki vitalitas (semangat hidup, daya hidup) yang tidak tanggung-tanggung. Hampir-hampir beliau tidak pernah istirahat. Perawatan dan pengembangan Mesjid Raya yang bertiang 100 buah itu, pagar-pagar, penyediaan air yang dipakai jama’ah untuk berwudhu, dan sebagainya, semuanya menjadi tanggung jawab beliau di samping menjaga agar jama’ah mesjid tetap terpelihara.Selalu kita ucapkan Alhamdulillah, sebab berkat bantuan anggota masyarakat dan pembantu-pembantu beliau yang tangguh: Bapak Nurdin Hasan, Bapak Abdul Fattah Puaq Cicci, Bapak H. M. Djawahir Daud, Sdr. M. Iqbal Yusuf ditambah anak-anak didiknya, mereka inilah yang tak kenal lelah dan bosan, Mesjid Raya Tinambung bisa mencapai keadannya yang sekarang, dengan jama’ah Maghrib – Isya – Subuhnya yang tidak mengecewakan, sudah bertahun. Malah, sudah menjelang 1 bulan, ada spesial lampu yang menerangi ruangan mesjid, dinayalakan mulai dari jam 18.00 s/d 06.00 pagi (menyala 12 jam non-stop).
Demikianlah sejarah ringkas dari hidup dan kehidupan K. H. Ahmad Alwy. Seorang tua yang tetap giat, bersemangat baja dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai penutup tulisan ini, kami muat salah satu di antara doa-doa yang diamalkan beliau: “Ya Allah, ya Rabbi, lindungilah aku dari kemalasan dan kebodohan. Ya Allah, ya Rabbi, lindungilah aku dari kebakhilan dan kekikiran, dari duka cita dan dari penindasan orang-orang.”

Penulis: Salik (nama samaran Suradi Yasil), dimuat di majalah Teluk Mandar Edisi VIII/Tahun II/April 1973 dengan judul “Vitalitas Seorang Tua”, tulisan yang sama dimuat kembali di majalah Teluk Mandar Edisi ke-18/April 2007 halaman 32 – 34 dengan judul “Imam Janggo’ Pionir Persuteraan di Mandar”.
Diposkan 16th February 2015 oleh Muhammad Ridwan

Senin, 29 Juni 2020

Mengenal KH.Syahabuddin

                                               

           
 
                                                                                                                                                      

KH.Syahabuddin adalah cucu dari Syekh Abd.Wahhab (Puayi Toa), Ayahnya bernama KH.Bukhari bin Syekh Abd.Wahhab. Beliau lahir di Pambusuang kemudian hijrah ke Polewali untuk mengikuti jejak ayahnya untuk berdakwah dan membuka pengajian disana sampai  wafat. Namun sebelum hijrah ke Polewali beliau sempat menjabat Imam di Pambusuang dan memimpin pengajian pada tahun 1922 sampai 1934 m.

KH.Syahabuddin yang juga dikenal dengan sebutan Annangguru Hawu saat memimpin pengajian kitta’ juga terkenal berani melawan penjajah Belanda, beliau pernah memimpin  demonstran atau unjuk rasa terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1934 KH.Syahabuddin dibantu menantunya bernama Daenna Ma’ata yang saat itu menjabat Kepala desa Pambusuang mendatangi kantor Kontroleur Belanda di Polewali mengajukan protes keras terhadap Belanda yang bertindak sewenang-wenang, memaksa rakyat bekerja keras dalam pembuatan jalan poros Polewali ke Mamasa.
Sementara itu di Pambusuang juga terjadi pergerakan yang dipelopori KH.Abd.Fattah (Paman KH.Syahabuddin), akibatnya banyak ulama Annangguru yang ditangkap dan diasingkan, termasuk Annangguru Hawu dan Annangguru Abd.Fattah dipenjarakan di Polewali. Maka pada saat itu Jabatan imam dan kepemimpinan pengajian diserahkan kepada kemanakannya Habib Hasan bin Alwy bin Sahil.dalam kepemimpinannya Habib Hasan bin Sahil mendirikan sebuah Madrasah, yakni Madrasah Arabiyah Islamiyah pada tahun 1937.

Dalam memimpin pengajian KH.Syahabuddin sangat terkenal wara’. Dikisahkan, pada suatu waktu beliau menelaah sebuah kitab, namun ketika sampai pada sebuah kalimat, beliau tidak mampu memahami apa  maksud kalimat tersebut. Kemudian beliau diam sejenak lalu memanggil istrinya dan bertanya dengan bahasa mandar:
O Kindo’na! Apa anna masse laher kitta’u, dian di mallau’i naun di andeu anu marese?        Maka istrinya menjawab: Andan dian puang.
Annangguru Hawu bertanya: Pi’angaranni rei lao! Lalu istrinya terdiam, tak lama kemudian istrinya menjawab: Sangga’ iya tappa ditu’u riwattu’u millamba sau di bonde, tappana mimbalia manduruma mesa buah lemo.
Annangguru Hawu bertanya: Ya mupirau hallal bandi? Istrinya menjawab: Mi’illon banda dai diboyanna to punna lemo tapi andan dian suara mambalia, jari malaima. Kemudian KH.Syahabuddin menyuruh kembali istrinya untuk minta dihalalkan pada yang punya pohon jeruk tadi. Akhirnya setelah dihalalkan maka Annangguru Hawu kembali melanjutkan muthala’anya dan langsung bisa memahami kalimat tersebut. Allahu a’lam bishshowaab.


Tabik,
Dibawah Kaki Gunung Lego

Mustaqim Alwy

Senin, 03 Februari 2020

SEJARAH SINGKAT PESANTREN “NUHIYAH” PAMBUSUANG SULAWESI BARAT

         Pambusuang adalah sebuah desa yang pada masa pemerintahan kerajaan berdiri pula menjadi kerajaan dalam wilayah kerajaan balanipa. Sepanjang masa berdirinya menjadi kerajaan, Pambusuang dikenal sebagai pusat pendiddikan Islam yang istilah Mandar-nya “Pangayiang Kittaq’ atau “pangayiang pondok”,yaitu suatu bentuk pendidikan dimana murid (santri) duduk bersilah dan melingkar menghadap “Annangguru” yang memberikan pelajaran.

           Sejarah pendidikan pendidikan keagamaan Islam di Pambusuang ini, berlangsung sejak awal abad ke 18 masehi hingga sekarang. Bangkitnya Pambusuang dalam mencetak ulama diwilayah kerajaan Balanipa, dimulai dari sejarah munculnya seorang ulama besar bernama “Syekh Adiyy”  digelar “Guru Gede” (Guru Besar) masyarakat Mandar menyebutnya “Guru Ga’de” membuka pengajian sistem kitab yang dipusatkan di langgar yang didirikannya sendiri sekitar tahun 1720 masehi.

          Syekh Adiyyi adalah seorang ulama penyebar islam dari tanah Jawa yang berdarah arab. setelah mendengar kabar para pedagang Mandar mengenai kerajaan Balanipa yang telah di islamkan  oleh Syekh Abd.Rahim Kamaluddin. Kedatangannya di kerajaan Balanipa disambut baik oleh pejabat kerajaan dan masyarakat yang memang telah lama menanti datangnya seorang ulama seperti Syekh Abd.Rahim Kamaluddin. Dalam rangka melaksakan tugasnya itu, Syekh Adiyy memilih Pambusuang (belum kerajaan saat itu) sebagai pusat kegiatan, dan disinilah ia menetap setelah mengawini seorang putri bangsawan dari Pappuangan Napo bernama “I Dhaerah”. kemudian mendirikan langgar sebagai pusat kegiatan pengajian yang kemudian dilanjutkan keturunannya. menurut KH.Mochtar Husein bahwa Syekh Adiyy adalah seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Jawa keturunan “Maulana Malik Ibrahim”sesuai surat dari Makkah yang ditulis oleh Abu Syahin, 1 Muharram 1402 H (1982).

         Pada dasarnya sistem pendidikan yang direalisasi oleh Syekh Adiyy pada masanya masih sangat sederhana dibanding dengan perkembangan selanjutnya. namun metode-metode yang digunakan dengan ikhtiar pendekatan serta upaya  perancanaan pandangannya justru dalam waktu kurang lebih 35 tahun (1720-1755 m) , Syekh Adiyy telah berhasil mempersiapkan kader-kader pelanjutnya yang mempermantap pendidikan keagamaan Islam sebagai gerakan Islamisasi.

         Setelah Syekh Adiyy (Guru Gede) wafat pada tahun 1755 m, kepemimpinan diambil alih oleh putranya bernama “Abdullah bin Adiyy”. Abdullah dengan kedalaman ilmu dan pengalamannya tidak kurang dari yang diwariskan ayahnya melalui pendidikan. pada masa Abdullah diadakan perluasan langgar. Dapat dikatakan, bahwa diperluasnya bangunan langgar yang dibarengi dengan bertambahnya santri pada masa Abdullah adalah merupakan peningkatan baru akan posisi Pambusuang sebagai pencetak Ulama di kerajaan Balanipa pada abad 18 m. Ini memberi arti tersendiri, sebab pada masa itu seluruh wilayah Mandar yang meliputi kerajaan-kerajaan "Pitu Ulunna Salu’ Pitu Babana Binanga", belum ada satupun yang membuka kegiatan pendidikan keagamaan Islam, kecuali kerajaan Balanipa dengan Pambusuang sebagai pusat.

          Setelah lebih 30 tahun Abdullah bin Adiyy mencurahkan tenaga dan fikiran dalam memimpin dan membina pengajian, maka pada tahun 1793 m beliau memenuhi panggilan Ilahi yang berarti tugasnya selaku pewaris Nabi berakhir, namun demikian putranya yang bernama ‘Maemana bin Abdullah yang bergelar Kanne’ Nannung Annangguru Matowa” melanjutkan pengajian peniggalan ayahnya. Pada masanya,yakni dari tahun 1793 sampai 1825 m, sistem pendidikan belum mengalami perubahan. walaupun demikian dari satu sisi , sistim pendidikan pada masa Maemana (Annangguru Matoa)  ini belum mengalami perubahan, namun jumlah aktifis pengajian memberi arti bahwa kesadaran generasi melalui wadah pendidikan merupakan modal dalam menyambut masa depan masyarakat Islam. setelah Memanah (Annangguru Matoa) wafat pada tahun 1825 m, pengajian kittaq dilanjutkan dan dipimpin putranya yang bernama “Syekh Abd.Wahhab” yang bergelar “Puayi Toa atau Hajji Toa” setelah dari Mekkah mempermantap ilmun dan pengalamannya 1823 m,

           Hajji Toa bin Maemana semasa aktif memimpin pengajian dari tahun 1825 sampai 1858 m, Pambusuang semakin nyata menjadi sentral studi islam di Mandar. .Menurut .KH.Mochtar Husein Hajji Toa-lah yang pertama mendirikan pesantren tradisional/(Pengajian Pondok/Pangayian Kittaq). Haji Toa pula yang merintis berdirinya Pambusuang sebagai kerajaan yang otonomi dari kerajaan Balanipa yang semula berstatus “Pappuangan” (wilayah hadat)  menjadi “Amaraqdiangan” atau “Arajang”, sekaligus menyelesaikan versus politik golongan antara Madippung dengan Daenna Rama yang dinilai dapat mengganggu lancarnya dakwah dan pendidikan. Maraqdia atau Arajang yang menjadi raja pertama kerajaan Pambusuang dari usaha Puayi Toa yang justru direstui oleh Hadat Tertinggi kerajaan Balanipa “Appeq Banua Kayyang” (Empat Negeri Besar) adalah “Daenna I lese”. sebagaimana tersebut dalam sisilah Hajji Toa berbunyi:
“Issangi majappu ripassalanna Daenna I Lese namuttama Arung ri Pambusuang, Ale-alenatu Hajji Toa lao ri tangnga-tangnga malai Arung, deq nasibawang sitarima” (Ketahuilah bahwa sesungguhnya Daenna I Lese diangkat menjadi Raja di Pambusuang adalah karena Hajji Toa-lah yang datang di Tangnga-tangnga mengambilnya, tanpa ada campur tangan dari siapapun golongan pribadi.”

           Sejak berdirinya kerajaan Pambusuang dengan rajanya yang resmi dan Haji Toa sebagai Kadhi justru menjadikan golongan ulama sebagai bagian dalam struktur pemerintahan yang disebut “Tomauwweng”, yakni penasehat bagi raja dan aparatnya dalam menjalankan pemerintahan.         Hajji Towa juga yang merealisasikan sistem Imam sebagai suatu jabatan yang hanya dapat dikendalikan oleh keturunan “Syekh Adiyy” dalam memimpin pengajian dimesjid dalam membina masyarakat islam untuk berpegang pada faham keagamaan yang tidak bervariasi yakni faham “Aqidah Ahlussunnah waljamaah dan bermadzhab Syafi’i” sebagaimana tercantum dalam sislsilah Hajji Toa yang berbunyi:
“Passalang, Pappasangnge Hajji Toa ri Pambusuang lao dzi anaq appona makkadai iko Hajji Lolo anrangnge topa Hajji Abd.Latif makkadai naiyya ripassalanna Akkeimangange ri pambusuang sisulle-sulleiwi iko manang mappadaoroane…. Naiyya idiq manang mula jaji idiq rimunrie ripakkuamotoni risisulle-sulleitoni pahang”.(Fasal,Pesan Hajji Toa kepada anak cucunya, engkau Haji Lolo (KH.Muhammad Nuh) dan juga Hajji Abd.Latif, Sesungguhnya hak imam di Pambusuang adalah hak kalian semua bersaudara…,Ketahuilah bahwa kitalah semua yang mula pertama dan kita pulalah yang terakhir punya hak imam serta satu dalam faham pemikiran (Aqidah Alussunnah waljamaah madzhab Syafi’i).

            Adapun ulama (Annangguru) yang dicetak oleh Hajji Toa mengenai sistem pendidikan yang diterapkan tersebut diatas adalah KH.Muhammad Nuh (bergelar Hajji Lolo putra pertamanya), KH.Abd.Latif (Kanneq Payi), KH.Bukhari, KH.Abd Salam, KH.Abd.Fattah, KH.Muhammad Ali, KH.Abd.Mu’thi, KH.Muhammad Thahir (Imam Lapeo) KH.Daeng, KH.Madeppungan, KH.Hida        (ayahanda KH.Muhammad Shaleh), Daenna I Lese (Maraqdia Pambusuang) dll. Para ulama inilah yang melanjutkan usaha Hajji Toa dalam mempolopori pendidikan dan pembinaan masyarakat islam di daerah Mandar.

             Pada tahun 1858 Haji Toa wafat, pengajian Kittaq dipimpin putra pertamanya KH.Muhammad Nuh yang bergelar Haji Lolo dibantu saudaranya bernama KH.Abd.Latif dan putranya yakni KH.Muhammad Alwy (bergelar Annangguru Kayyang To Matindo di masigi), di zaman inilah berdatangan orang arab keturunan sayyid diantaranya bernama Habib Alwy bin Sahil al-Jamalullail dari lasem dan kawin dengan Sitti Rabi’ah  (cucu Haji Toa) dan melahirkan putra bernama Habib Hasan yang bergelar Puang Lero, Habib Muhammad al-Ahdal Syekh Abd.Rauf al-Madani (Mursyid Thariqah Sattariyah), sehingga pengajian Kittaq mencapai puncaknya dengan gemilang. Masa inilah Pambusuang dibanjiri masyarakat dari berbagai daerah. Di zaman ini pula dimulai ritual “Ratib Samman”(Rate Samman) yang dibawa dan diperkenalkan oleh KH.Muhammad Alwy  setelah dari Mekkah, Shalat Lailatul Qadar,  Shalat Salle Kalla. Demikian juga Totamma (Tamat mengaji al-Qur’an) diarak dengan kuda menari, rebana, qashidah, jeppeng, dan lagu-lagu yang bernafaskan dakwah. Setelah KH.Muhammad Nuh wafat 1866 m dan KH.Abd.Latif wafat 1882 Kepemimpinan dan pengajian Kitta dilanjutkan KH.Abd.Salam tepatnya pada tahun 1882 sampai wafat pada tahun 1902 m kemudian dilanjutkan oleh KH.Muhammad Alwy,  Pada tahun 1912 beliau berhijrah  ke Lampoko (Campalagian) bersama pamannya yakni KH.Muhammad Thahir (Imam Lapeo) yang berhijrah ke Lapeo untuk menyebarkan dakwah islam.

             Setelah KH.Muhammad Alwy, Tahun 1912 kepemimpinan dan pengajian kittaq  dipimpin oleh KH.Abd.Fattah dibantu KH.Syahabuddin (Annangguru Hawu)  bin KH.Bukhari 1934 m, Namun pengajian dan dakwah mulai tidak stabil karena Belanda yang mulai melakukan resolusi “Kerja Paksa”. Kedua Ulama tersebut melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Pada saat itu tepatnya tahun 1934, menantu KH.Syahabuddin yang bernama Daenna Ma’ata selaku pejabat pemerintah pambusuang mendatangi kantor kontroleur Belanda di Polewali, mengajukan protes keras agar Belanda tidak sewenang-wenang dan menantang pembuatan jalan poros Polewali Mamasa tanpa gaji. Sementara itu KH.Abd.Fattah dan murid-muridnya dengan keberanian dan panggilan jihad, menghadang patroli Belanda di Pambusuang, akibatnya KH.Abd.Fattah dan KH.Syahabuddin dijebloskan kepenjara  dan pengajian kittaq dilarang. Pada tahun 1934 ketika Sayyid Hasan bin Alwy bin Sahil (cucu Haji Toa) menjadi imam menggantikan KH.Syahabuddin kembali melanjutkan dan memimpin pengajian kittaq yang sempat dilarang oleh pemerintah Belanda, maka beliau mengalihkan jejak pengajian dari politik melawan penjajah, pengajian diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), yang tetap menerapkan sistem halaqah. diserambi mesjid. Sedangkan murid-murid pemula (setingkat ibtidaiyah) dilangsungkan dirumah imam. Tapi ketika zaman penjajahan Jepan MAI tidak berjalan lancar.

            Selanjutnya pada tahun 1944 muncul seorang cucu KH.Muhammad Nuh yang bernama KH.Ahmad (bergelar Imam Janggo) putra KH.Muhammad Alwy,  Setelah lama terjun dalam dunia pergerakan dan dunia politik yang memang dahulu dimasukinya. seperti organisasi  Jami’atul Islamiyah, , ketika beliau masih muda remaja (tahun 1929 menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia, PSII). Di tahun revolusi, masuk KRIS Muda. Di tahun-tahun revolusi yang berkecamuk itu jugalah, beliau menjelajahi pulau-pulau yang bertebaran di Selat Makassar. Selalu berhubungan dengan salah satu pusat perjuangan di Jawa.. Ketika Imam Janggo menjadi imam dan kembali memimpin madrasah beliau mengganti nama MAI untuk menghilangkan kesan arab menjadi Madrasah Diniyah Islamiyah (MDI), namun dalam kepemimpinannya Imam Janggo masih menghubungi lagi “kaum extremis” di Sulawesi Selatan. Terjadi di tahun 1947, 18 Agustus. beliau dan kawan-kawannya menenggelamkan perahu musuh yang membawa senjata 12 pucuk. Kawan-kawan beliau yang aktif di pulau-pulau Selat Makassar mempertahankan kemerdekaann diantaranya Sayyidd Hasan bin Tahir dari Ternate (akhirnya meninggal dalam penjara penjajah), Abdul Hakim dan Amin Slamet dari Goa. Keduanya sebagai guru sekolah. Kemudian Imam Janggo (KH.Ahmad Alwy) hijrah ke Tinambung dan menjadi Imam mesjid melanjutkan misi dakwah ayahandanya KH.Muhammad Alwy (Annangguru Kayyang To Matindo di Masigi). Pada zaman pemberontakan DI/TII, MDI tidak berjalan lancar karena gangguan dari dalam dan luar kota. Pada tahun 1968 (12 Rabiul Awal 1388 h) salah seorang cucu Haji Toa yang bernama KH.Mochtar Husein yang berdomisili diUjung Pandang (Makassar) kembali melanjutkan perjuangan pendahulunya dalam memimpin madrasah dan untuk lebih meningkatkan system pendidikan di Pambusuang merubah nama MAI menjadi Yayasan Pesantren “Nuhiyah” disingkat “YAPNUH”seperti sekarang ini.
 
Tabik,
Dibawah Kaki Gunung Lego
MUSTAQIM ALWY

  Sumber: Skripsi Sahabuddin A El-Maknun (1986), Mengenal Pesantren Nuhiyah (1995) KH.Mochtar Husein, Silsilah Syekh Adiy (1253 h), Imam Janggo Pioner Pesuteraan Mandar(1973) Suradi Yasil.

Imam Janggoq Pionir Persuteraan di Mandar

Imam Janggoq, tengah mengenakan surban Orang tua ini, berkulit hitam kemerah-merahan, pipinya berkerut-kerut, ...