Orang tua ini,
berkulit hitam kemerah-merahan, pipinya berkerut-kerut, rambut yang tinggal
sedikit itu otomatis memutih, dengan gigih sekali memelihara ulat, beribu-ribu
banyaknya. Dan beribu-ribu meter sutera alam telah diproduksi olehnya. Ia
dibantu sepenuhnya oleh isterinya dan seorang putrinya, pekerja-pekerja ulet
bertangan halus. Hampir-hampir tak pernah alpa dalam sehari memindahkan ulat
nan lembut itu, memberinya makan dengan daun-daun khusus (murbei), mengolah
sutra hadiah sang ulat, sampai menjadi kain dalam segala macam corak dan warna.
Bagi beliau (K.
H. Ahmad Alwy) berhujan atau dibakar matahari pergi mengambil daun-daun murbei,
sampai-sampai ke Mombi, adalah soal biasa. Mengendarai sepeda tua bercat hijau.
Bicara
soal-soal ulat sutera yang menghasilkan sutera asli ini, berkat pengalaman
sepuluh tahun dan pendidikan di bidang persuteraan selama sepuluh bulan di
Bandung (1962), beliau sudah sangat mahir. Mulai dari sejarah ulat sejak dahulu
kala, sampai menjadi industri rumah tangga di Tanah Cina dan negeri-negeri
lain, hingga sekarang ini. Karena beliau selama masa jabatan sebagai Imam yang
sudah puluhan tahun itu telah mengawinkan manusia berjumlah ribuan, terhadap
“pangeran dan putri” ulat sutera pun telah beribu telah dikawinkan oleh beliau.
Karena
ketahanan beliau dalam pemeliharaan ulat sutera yang ringan sejak tahun enam
puluh tiga hingga kini dan semakin diperbesar (ditingkatkan), tidaklah
berlebihan apabila dikatakan di sini, beliaulah salah seorang pelopor yang
berhasil di bidang persuteraan alam di daerah Mandar. Diakui kebenarannya bahwa
menjelang kedatangan beliau di Tinambung untuk menjadi Imam Mesjid Jami’.
Beberapa orang telah mulai menanam murbei dan 3-4 bulan berikutnya memelihara
ulat. Tapi kenyataan selanjutnya mencatat, semuanya gagal dalam mengembangkan
usaha tersebut. Ketika Pak Imam yang memulai tantangan demi tantangan
ditundukkan olehnya. Dan hasilnya pun, Alhamdulillah. Puluhan ribu pohon murbei
kini bertebaran di dalam daerah Kecamatan Tinambung dan persiapan Kecamatan
Tutallu.
Pendidikan
Pertama sekali
mengenal huruf-huruf Al Quran di bawah bimbingan dan asuhan ayahanda beliau
dibantu pamannya, KH. M. Yasin (lebih populer dengan nama Annangguru Kacing, telah
menjadi warga negara Arab Saudi). Di masa kecil itu juga sekaligus beliau
diajari Nahwu Sharaf. Kawan-kawan sepengajian beliau diantaranya Bapak K. H.
Muhammad Saleh, H. Abdul Razak dan H. Abdul Kadir. Amat berjasa memberikan
ilmu-ilmu agama kepada beliau dan kawan-kawannya waktu itu ialah KH.Muhammad
Ghalib (Annangguru Gale). Setelah beliau lepas dari pendidikan dasar ini,
dipelajarinya ilmu Hadis, ilmu fiqih, usluhuddin dan lebih memperdalam Bahasa
Arab kurang lebih tujuh tahun. Guru beliau ialah Al Muhtaram Habib Hasan
bin Sahil. Serentak dengan ini belajar ilmu tafsir kepada K H. Syahabuddin.
Jadi Imam Jabatan sebagai imam mesjid terbagi dua periode. Periode pertama dari tahun 1936 – 1942, menggantikan ayahanda beliau yang meninggal di tahun 1936, tepat 1 Ramadhan. Meninggal di dalam Mesjid Tinambung, sementara memimpin jama’ah tarwih (imam) pada shalat witir. Selama periode pertama sebagai Imam Mesjid Tinambung, beliau mengajar anak-anak sekolah agama (sekolah arab istilah dulu). Tempat belajar di ruangan Mesjid Tinambung. Bersama-sama dengan beliau waktu itu, sekarang masih hidup, bertempat tinggal di Polewali, Al Ustaz Abdul Hafidz.Seorang veteran Ketika Jepang masuk menjajah tanah air kita dan beliau tidak lagi memegang jabatan imam, beliau memasuki organisasi Jami’atul Islamiyah. Tahun 1945, Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Indonesia merdeka. Dengan mempertahankan tegaknya republik yang masih sangat muda itu, segera beliau terjun kembali ke dunia pergerakan, dunia politik yang memang dahulu dimasukinya, ketika beliau masih muda remaja (tahun 1929 menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia, PSII). Di tahun-tahun revolusi, masuk KRIS Muda. Karena perjuangan beliau dengang masa bakti 4 tahun 2 bulan, berdasarkan SK Menteri Urusan Veteran, 25 Juli 1962, No. 021/P/Kpts/MUV/62, H. Ahmad Alwy resmi jadi Veteran Republik Indonesia, Golongan A.
Jadi Imam Jabatan sebagai imam mesjid terbagi dua periode. Periode pertama dari tahun 1936 – 1942, menggantikan ayahanda beliau yang meninggal di tahun 1936, tepat 1 Ramadhan. Meninggal di dalam Mesjid Tinambung, sementara memimpin jama’ah tarwih (imam) pada shalat witir. Selama periode pertama sebagai Imam Mesjid Tinambung, beliau mengajar anak-anak sekolah agama (sekolah arab istilah dulu). Tempat belajar di ruangan Mesjid Tinambung. Bersama-sama dengan beliau waktu itu, sekarang masih hidup, bertempat tinggal di Polewali, Al Ustaz Abdul Hafidz.Seorang veteran Ketika Jepang masuk menjajah tanah air kita dan beliau tidak lagi memegang jabatan imam, beliau memasuki organisasi Jami’atul Islamiyah. Tahun 1945, Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Indonesia merdeka. Dengan mempertahankan tegaknya republik yang masih sangat muda itu, segera beliau terjun kembali ke dunia pergerakan, dunia politik yang memang dahulu dimasukinya, ketika beliau masih muda remaja (tahun 1929 menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia, PSII). Di tahun-tahun revolusi, masuk KRIS Muda. Karena perjuangan beliau dengang masa bakti 4 tahun 2 bulan, berdasarkan SK Menteri Urusan Veteran, 25 Juli 1962, No. 021/P/Kpts/MUV/62, H. Ahmad Alwy resmi jadi Veteran Republik Indonesia, Golongan A.
Di tahun-tahun
revolusi yang berkecamuk itu jugalah, beliau menjelajahi pulau-pulau yang
bertebaran di Selat Makassar. Selalu berhubungan dengan salah satu pusat
perjuangan di Jawa, kemudian menghubungi lagi “kaum extremis” di Sulawesi
Selatan. Terjadi di tahun 1947, 18 Agustus, beliau dan kawan-kawannya
menenggelamkan perahu musuh yang membawa senjata 12 pucuk. Kawan-kawan beliau
yang aktif di pulau-pulau Selat Makassar mempertahankan kemerdekaann
diantaranya Syed Hasan bin Tahir dari Ternate (akhirnya meninggal dalam penjara
penjajah), Abdul Hakim dan Amin Slamet dari Goa. Kedua orang terakhir disebut,
masing-masing sebagai guru sekolah. Tahun 1959 beliau bekerja pada Kantor
Legiun Veteran Cabang Mandar yang berkedudukan di Makassar di bawah pimpinan H.
R. Amin Daud. Tahun 1962 bulan Maret diutus ke Bandung mempelajari persuteraan
alam. Dan akhir yang sama kembali ke Ujung Pandang Imam Mesjid
Raya Tanggal 3
Januari 1963, Bapak kita ini diserahi lagi tugas berat tapi mulia, jadi imam di
Tinambung (periode kedua). Jabatan ini terus menerus dipegangnya, walaupun usia
sudah lanjut, sampai sekarang. Tetapi orang tua kita ini sungguh memiliki
vitalitas (semangat hidup, daya hidup) yang tidak tanggung-tanggung.
Hampir-hampir beliau tidak pernah istirahat. Perawatan dan pengembangan Mesjid
Raya yang bertiang 100 buah itu, pagar-pagar, penyediaan air yang dipakai
jama’ah untuk berwudhu, dan sebagainya, semuanya menjadi tanggung jawab beliau
di samping menjaga agar jama’ah mesjid tetap terpelihara.Selalu kita
ucapkan Alhamdulillah, sebab berkat bantuan anggota masyarakat dan
pembantu-pembantu beliau yang tangguh: Bapak Nurdin Hasan, Bapak Abdul Fattah
Puaq Cicci, Bapak H. M. Djawahir Daud, Sdr. M. Iqbal Yusuf ditambah anak-anak
didiknya, mereka inilah yang tak kenal lelah dan bosan, Mesjid Raya Tinambung
bisa mencapai keadannya yang sekarang, dengan jama’ah Maghrib – Isya – Subuhnya
yang tidak mengecewakan, sudah bertahun. Malah, sudah menjelang 1 bulan, ada
spesial lampu yang menerangi ruangan mesjid, dinayalakan mulai dari jam 18.00
s/d 06.00 pagi (menyala 12 jam non-stop).
Demikianlah
sejarah ringkas dari hidup dan kehidupan K. H. Ahmad Alwy. Seorang tua yang
tetap giat, bersemangat baja dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai penutup
tulisan ini, kami muat salah satu di antara doa-doa yang diamalkan beliau: “Ya
Allah, ya Rabbi, lindungilah aku dari kemalasan dan kebodohan. Ya Allah, ya
Rabbi, lindungilah aku dari kebakhilan dan kekikiran, dari duka cita dan dari
penindasan orang-orang.”
Penulis: Salik
(nama samaran Suradi Yasil), dimuat di majalah Teluk Mandar Edisi VIII/Tahun
II/April 1973 dengan judul “Vitalitas Seorang Tua”, tulisan yang sama dimuat
kembali di majalah Teluk Mandar Edisi ke-18/April 2007 halaman 32 – 34 dengan
judul “Imam Janggo’ Pionir Persuteraan di Mandar”.


