Jumat, 05 November 2021

Imam Janggoq Pionir Persuteraan di Mandar



Imam Janggoq, tengah mengenakan surban
Orang tua ini, berkulit hitam kemerah-merahan, pipinya berkerut-kerut, rambut yang tinggal sedikit itu otomatis memutih, dengan gigih sekali memelihara ulat, beribu-ribu banyaknya. Dan beribu-ribu meter sutera alam telah diproduksi olehnya. Ia dibantu sepenuhnya oleh isterinya dan seorang putrinya, pekerja-pekerja ulet bertangan halus. Hampir-hampir tak pernah alpa dalam sehari memindahkan ulat nan lembut itu, memberinya makan dengan daun-daun khusus (murbei), mengolah sutra hadiah sang ulat, sampai menjadi kain dalam segala macam corak dan warna.
Bagi beliau (K. H. Ahmad Alwy) berhujan atau dibakar matahari pergi mengambil daun-daun murbei, sampai-sampai ke Mombi, adalah soal biasa. Mengendarai sepeda tua bercat hijau.
Bicara soal-soal ulat sutera yang menghasilkan sutera asli ini, berkat pengalaman sepuluh tahun dan pendidikan di bidang persuteraan selama sepuluh bulan di Bandung (1962), beliau sudah sangat mahir. Mulai dari sejarah ulat sejak dahulu kala, sampai menjadi industri rumah tangga di Tanah Cina dan negeri-negeri lain, hingga sekarang ini. Karena beliau selama masa jabatan sebagai Imam yang sudah puluhan tahun itu telah mengawinkan manusia berjumlah ribuan, terhadap “pangeran dan putri” ulat sutera pun telah beribu telah dikawinkan oleh beliau.
Karena ketahanan beliau dalam pemeliharaan ulat sutera yang ringan sejak tahun enam puluh tiga hingga kini dan semakin diperbesar (ditingkatkan), tidaklah berlebihan apabila dikatakan di sini, beliaulah salah seorang pelopor yang berhasil di bidang persuteraan alam di daerah Mandar. Diakui kebenarannya bahwa menjelang kedatangan beliau di Tinambung untuk menjadi Imam Mesjid Jami’. Beberapa orang telah mulai menanam murbei dan 3-4 bulan berikutnya memelihara ulat. Tapi kenyataan selanjutnya mencatat, semuanya gagal dalam mengembangkan usaha tersebut. Ketika Pak Imam yang memulai tantangan demi tantangan ditundukkan olehnya. Dan hasilnya pun, Alhamdulillah. Puluhan ribu pohon murbei kini bertebaran di dalam daerah Kecamatan Tinambung dan persiapan Kecamatan Tutallu.
Pendidikan
Pertama sekali mengenal huruf-huruf Al Quran di bawah bimbingan dan asuhan ayahanda beliau dibantu pamannya, KH. M. Yasin (lebih populer dengan nama Annangguru Kacing, telah menjadi warga negara Arab Saudi). Di masa kecil itu juga sekaligus beliau diajari Nahwu Sharaf. Kawan-kawan sepengajian beliau diantaranya Bapak K. H. Muhammad Saleh, H. Abdul Razak dan H. Abdul Kadir. Amat berjasa memberikan ilmu-ilmu agama kepada beliau dan kawan-kawannya waktu itu ialah KH.Muhammad Ghalib (Annangguru Gale). Setelah beliau lepas dari pendidikan dasar ini, dipelajarinya ilmu Hadis, ilmu fiqih, usluhuddin dan lebih memperdalam Bahasa Arab kurang lebih tujuh tahun. Guru beliau ialah Al Muhtaram Habib Hasan bin Sahil. Serentak dengan ini belajar ilmu tafsir kepada K H. Syahabuddin.                                                                                                                                       
Jadi Imam                                                                                                                                          Jabatan sebagai imam mesjid terbagi dua periode. Periode pertama dari tahun 1936 – 1942, menggantikan ayahanda beliau yang meninggal di tahun 1936, tepat 1 Ramadhan. Meninggal di dalam Mesjid Tinambung, sementara memimpin jama’ah tarwih (imam) pada shalat witir. Selama periode pertama sebagai Imam Mesjid Tinambung, beliau mengajar anak-anak sekolah agama (sekolah arab istilah dulu). Tempat belajar di ruangan Mesjid Tinambung. Bersama-sama dengan beliau waktu itu, sekarang masih hidup, bertempat tinggal di Polewali, Al Ustaz Abdul Hafidz.Seorang veteran Ketika Jepang masuk menjajah tanah air kita dan beliau tidak lagi memegang jabatan imam, beliau memasuki organisasi Jami’atul Islamiyah. Tahun 1945, Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Indonesia merdeka. Dengan mempertahankan tegaknya republik yang masih sangat muda itu, segera beliau terjun kembali ke dunia pergerakan, dunia politik yang memang dahulu dimasukinya, ketika beliau masih muda remaja (tahun 1929 menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia, PSII). Di tahun-tahun revolusi, masuk KRIS Muda. Karena perjuangan beliau dengang masa bakti 4 tahun 2 bulan, berdasarkan SK Menteri Urusan Veteran, 25 Juli 1962, No. 021/P/Kpts/MUV/62, H. Ahmad Alwy resmi jadi Veteran Republik Indonesia, Golongan A.
Di tahun-tahun revolusi yang berkecamuk itu jugalah, beliau menjelajahi pulau-pulau yang bertebaran di Selat Makassar. Selalu berhubungan dengan salah satu pusat perjuangan di Jawa, kemudian menghubungi lagi “kaum extremis” di Sulawesi Selatan. Terjadi di tahun 1947, 18 Agustus, beliau dan kawan-kawannya menenggelamkan perahu musuh yang membawa senjata 12 pucuk. Kawan-kawan beliau yang aktif di pulau-pulau Selat Makassar mempertahankan kemerdekaann diantaranya Syed Hasan bin Tahir dari Ternate (akhirnya meninggal dalam penjara penjajah), Abdul Hakim dan Amin Slamet dari Goa. Kedua orang terakhir disebut, masing-masing sebagai guru sekolah. Tahun 1959 beliau bekerja pada Kantor Legiun Veteran Cabang Mandar yang berkedudukan di Makassar di bawah pimpinan H. R. Amin Daud. Tahun 1962 bulan Maret diutus ke Bandung mempelajari persuteraan alam. Dan akhir yang sama kembali ke Ujung Pandang Imam Mesjid Raya Tanggal 3 Januari 1963, Bapak kita ini diserahi lagi tugas berat tapi mulia, jadi imam di Tinambung (periode kedua). Jabatan ini terus menerus dipegangnya, walaupun usia sudah lanjut, sampai sekarang. Tetapi orang tua kita ini sungguh memiliki vitalitas (semangat hidup, daya hidup) yang tidak tanggung-tanggung. Hampir-hampir beliau tidak pernah istirahat. Perawatan dan pengembangan Mesjid Raya yang bertiang 100 buah itu, pagar-pagar, penyediaan air yang dipakai jama’ah untuk berwudhu, dan sebagainya, semuanya menjadi tanggung jawab beliau di samping menjaga agar jama’ah mesjid tetap terpelihara.Selalu kita ucapkan Alhamdulillah, sebab berkat bantuan anggota masyarakat dan pembantu-pembantu beliau yang tangguh: Bapak Nurdin Hasan, Bapak Abdul Fattah Puaq Cicci, Bapak H. M. Djawahir Daud, Sdr. M. Iqbal Yusuf ditambah anak-anak didiknya, mereka inilah yang tak kenal lelah dan bosan, Mesjid Raya Tinambung bisa mencapai keadannya yang sekarang, dengan jama’ah Maghrib – Isya – Subuhnya yang tidak mengecewakan, sudah bertahun. Malah, sudah menjelang 1 bulan, ada spesial lampu yang menerangi ruangan mesjid, dinayalakan mulai dari jam 18.00 s/d 06.00 pagi (menyala 12 jam non-stop).
Demikianlah sejarah ringkas dari hidup dan kehidupan K. H. Ahmad Alwy. Seorang tua yang tetap giat, bersemangat baja dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai penutup tulisan ini, kami muat salah satu di antara doa-doa yang diamalkan beliau: “Ya Allah, ya Rabbi, lindungilah aku dari kemalasan dan kebodohan. Ya Allah, ya Rabbi, lindungilah aku dari kebakhilan dan kekikiran, dari duka cita dan dari penindasan orang-orang.”

Penulis: Salik (nama samaran Suradi Yasil), dimuat di majalah Teluk Mandar Edisi VIII/Tahun II/April 1973 dengan judul “Vitalitas Seorang Tua”, tulisan yang sama dimuat kembali di majalah Teluk Mandar Edisi ke-18/April 2007 halaman 32 – 34 dengan judul “Imam Janggo’ Pionir Persuteraan di Mandar”.
Diposkan 16th February 2015 oleh Muhammad Ridwan

Imam Janggoq Pionir Persuteraan di Mandar

Imam Janggoq, tengah mengenakan surban Orang tua ini, berkulit hitam kemerah-merahan, pipinya berkerut-kerut, ...