Pambusuang
adalah sebuah desa yang pada masa pemerintahan kerajaan berdiri pula menjadi
kerajaan dalam wilayah kerajaan balanipa. Sepanjang masa berdirinya menjadi
kerajaan, Pambusuang dikenal sebagai pusat pendiddikan Islam yang istilah
Mandar-nya “Pangayiang Kittaq’ atau “pangayiang pondok”,yaitu suatu bentuk
pendidikan dimana murid (santri) duduk bersilah dan melingkar menghadap “Annangguru”
yang memberikan pelajaran.
Sejarah pendidikan pendidikan keagamaan Islam di Pambusuang ini,
berlangsung sejak awal abad ke 18 masehi hingga sekarang. Bangkitnya Pambusuang
dalam mencetak ulama diwilayah kerajaan Balanipa, dimulai dari sejarah munculnya
seorang ulama besar bernama “Syekh Adiyy” digelar “Guru Gede” (Guru Besar) masyarakat
Mandar menyebutnya “Guru Ga’de” membuka pengajian sistem kitab yang dipusatkan
di langgar yang didirikannya sendiri sekitar tahun 1720 masehi.
Syekh Adiyyi adalah seorang ulama penyebar islam dari tanah Jawa yang
berdarah arab. setelah mendengar kabar para pedagang Mandar mengenai kerajaan
Balanipa yang telah di islamkan oleh
Syekh Abd.Rahim Kamaluddin. Kedatangannya di kerajaan Balanipa disambut baik
oleh pejabat kerajaan dan masyarakat yang memang telah lama menanti datangnya seorang
ulama seperti Syekh Abd.Rahim Kamaluddin. Dalam rangka melaksakan tugasnya itu,
Syekh Adiyy memilih Pambusuang (belum kerajaan saat itu) sebagai pusat
kegiatan, dan disinilah ia menetap setelah mengawini seorang putri bangsawan
dari Pappuangan Napo bernama “I Dhaerah”. kemudian mendirikan langgar sebagai
pusat kegiatan pengajian yang kemudian dilanjutkan keturunannya. menurut KH.Mochtar Husein bahwa Syekh Adiyy adalah seorang penyebar agama Islam yang
berasal dari Jawa keturunan “Maulana Malik Ibrahim”sesuai surat dari Makkah yang
ditulis oleh Abu Syahin, 1 Muharram 1402 H (1982).
Pada dasarnya sistem pendidikan yang direalisasi oleh Syekh Adiyy pada
masanya masih sangat sederhana dibanding dengan perkembangan selanjutnya. namun
metode-metode yang digunakan dengan ikhtiar pendekatan serta upaya perancanaan pandangannya justru dalam waktu
kurang lebih 35 tahun (1720-1755 m) , Syekh Adiyy telah berhasil mempersiapkan
kader-kader pelanjutnya yang mempermantap pendidikan keagamaan Islam sebagai
gerakan Islamisasi.
Setelah Syekh Adiyy (Guru Gede) wafat pada tahun 1755 m, kepemimpinan diambil
alih oleh putranya bernama “Abdullah bin Adiyy”. Abdullah dengan kedalaman ilmu
dan pengalamannya tidak kurang dari yang diwariskan ayahnya melalui pendidikan.
pada masa Abdullah diadakan perluasan langgar. Dapat dikatakan, bahwa
diperluasnya bangunan langgar yang dibarengi dengan bertambahnya santri pada masa
Abdullah adalah merupakan peningkatan baru akan posisi Pambusuang sebagai
pencetak Ulama di kerajaan Balanipa pada abad 18 m. Ini memberi arti tersendiri,
sebab pada masa itu seluruh wilayah Mandar yang meliputi kerajaan-kerajaan "Pitu
Ulunna Salu’ Pitu Babana Binanga", belum ada satupun yang membuka kegiatan
pendidikan keagamaan Islam, kecuali kerajaan Balanipa dengan Pambusuang sebagai
pusat.
Setelah lebih 30 tahun Abdullah bin Adiyy mencurahkan tenaga dan fikiran
dalam memimpin dan membina pengajian, maka pada tahun 1793 m beliau memenuhi
panggilan Ilahi yang berarti tugasnya selaku pewaris Nabi berakhir, namun
demikian putranya yang bernama ‘Maemana bin Abdullah yang bergelar Kanne’
Nannung Annangguru Matowa” melanjutkan pengajian peniggalan ayahnya. Pada
masanya,yakni dari tahun 1793 sampai 1825 m, sistem pendidikan belum mengalami
perubahan. walaupun demikian dari satu sisi , sistim pendidikan pada masa
Maemana (Annangguru Matoa) ini belum mengalami
perubahan, namun jumlah aktifis pengajian memberi arti bahwa kesadaran
generasi melalui wadah pendidikan merupakan modal dalam menyambut masa depan
masyarakat Islam. setelah Memanah (Annangguru Matoa) wafat pada tahun 1825 m,
pengajian kittaq dilanjutkan dan dipimpin putranya yang bernama “Syekh
Abd.Wahhab” yang bergelar “Puayi Toa atau Hajji Toa” setelah dari Mekkah mempermantap ilmun
dan pengalamannya 1823 m,
Hajji Toa bin Maemana semasa aktif memimpin pengajian dari tahun 1825
sampai 1858 m, Pambusuang semakin nyata menjadi sentral studi islam di Mandar. .Menurut .KH.Mochtar Husein Hajji Toa-lah yang pertama mendirikan pesantren
tradisional/(Pengajian Pondok/Pangayian Kittaq). Haji Toa pula yang merintis berdirinya Pambusuang
sebagai kerajaan yang otonomi dari kerajaan Balanipa yang semula berstatus “Pappuangan”
(wilayah hadat) menjadi “Amaraqdiangan”
atau “Arajang”, sekaligus menyelesaikan versus politik golongan antara
Madippung dengan Daenna Rama yang dinilai dapat mengganggu lancarnya dakwah dan
pendidikan. Maraqdia atau Arajang yang menjadi raja pertama kerajaan Pambusuang
dari usaha Puayi Toa yang justru direstui oleh Hadat Tertinggi kerajaan
Balanipa “Appeq Banua Kayyang” (Empat Negeri Besar) adalah “Daenna I lese”.
sebagaimana tersebut dalam sisilah Hajji Toa berbunyi:
“Issangi majappu ripassalanna Daenna I Lese
namuttama Arung ri Pambusuang, Ale-alenatu Hajji Toa lao ri tangnga-tangnga malai
Arung, deq nasibawang sitarima” (Ketahuilah bahwa sesungguhnya Daenna I Lese
diangkat menjadi Raja di Pambusuang adalah karena Hajji Toa-lah yang datang di
Tangnga-tangnga mengambilnya, tanpa ada campur tangan dari siapapun golongan
pribadi.”
Sejak berdirinya kerajaan Pambusuang dengan rajanya yang resmi dan Haji
Toa sebagai Kadhi justru menjadikan golongan ulama sebagai bagian dalam
struktur pemerintahan yang disebut “Tomauwweng”, yakni penasehat bagi raja dan
aparatnya dalam menjalankan pemerintahan. Hajji Towa juga yang merealisasikan sistem
Imam sebagai suatu jabatan yang hanya dapat dikendalikan oleh keturunan “Syekh
Adiyy” dalam memimpin pengajian dimesjid dalam membina masyarakat islam untuk
berpegang pada faham keagamaan yang tidak bervariasi yakni faham “Aqidah
Ahlussunnah waljamaah dan bermadzhab Syafi’i” sebagaimana tercantum dalam sislsilah
Hajji Toa yang berbunyi:
“Passalang, Pappasangnge Hajji Toa ri
Pambusuang lao dzi anaq appona makkadai iko Hajji Lolo anrangnge topa Hajji Abd.Latif
makkadai naiyya ripassalanna Akkeimangange ri pambusuang sisulle-sulleiwi iko
manang mappadaoroane…. Naiyya idiq manang mula jaji idiq rimunrie
ripakkuamotoni risisulle-sulleitoni pahang”.(Fasal,Pesan Hajji Toa kepada anak
cucunya, engkau Haji Lolo (KH.Muhammad Nuh) dan juga Hajji Abd.Latif,
Sesungguhnya hak imam di Pambusuang adalah hak kalian semua bersaudara…,Ketahuilah
bahwa kitalah semua yang mula pertama dan kita pulalah yang terakhir punya hak
imam serta satu dalam faham pemikiran (Aqidah Alussunnah waljamaah madzhab
Syafi’i).
Adapun ulama (Annangguru) yang dicetak oleh Hajji Toa mengenai sistem pendidikan
yang diterapkan tersebut diatas adalah KH.Muhammad Nuh (bergelar Hajji Lolo
putra pertamanya), KH.Abd.Latif (Kanneq Payi), KH.Bukhari, KH.Abd Salam,
KH.Abd.Fattah, KH.Muhammad Ali, KH.Abd.Mu’thi, KH.Muhammad Thahir (Imam Lapeo) KH.Daeng,
KH.Madeppungan, KH.Hida (ayahanda
KH.Muhammad Shaleh), Daenna I Lese (Maraqdia Pambusuang) dll. Para ulama inilah
yang melanjutkan usaha Hajji Toa dalam mempolopori pendidikan dan pembinaan masyarakat
islam di daerah Mandar.
Pada
tahun 1858 Haji Toa wafat, pengajian Kittaq dipimpin putra pertamanya KH.Muhammad
Nuh yang bergelar Haji Lolo dibantu saudaranya bernama KH.Abd.Latif dan
putranya yakni KH.Muhammad Alwy (bergelar Annangguru Kayyang To Matindo di masigi), di zaman inilah
berdatangan orang arab keturunan sayyid diantaranya bernama Habib Alwy bin Sahil al-Jamalullail
dari lasem dan kawin dengan Sitti Rabi’ah
(cucu Haji Toa) dan melahirkan putra bernama Habib Hasan yang bergelar
Puang Lero, Habib Muhammad al-Ahdal Syekh Abd.Rauf al-Madani (Mursyid Thariqah
Sattariyah), sehingga pengajian Kittaq mencapai puncaknya dengan gemilang. Masa
inilah Pambusuang dibanjiri masyarakat
dari berbagai daerah. Di zaman ini pula dimulai ritual “Ratib Samman”(Rate Samman)
yang dibawa dan diperkenalkan oleh KH.Muhammad Alwy setelah dari Mekkah, Shalat Lailatul Qadar, Shalat Salle Kalla. Demikian juga Totamma (Tamat mengaji al-Qur’an) diarak dengan kuda
menari, rebana, qashidah, jeppeng, dan lagu-lagu yang bernafaskan dakwah. Setelah
KH.Muhammad Nuh wafat 1866 m dan KH.Abd.Latif wafat 1882 Kepemimpinan dan
pengajian Kitta dilanjutkan KH.Abd.Salam tepatnya pada tahun 1882 sampai wafat
pada tahun 1902 m kemudian dilanjutkan oleh KH.Muhammad Alwy, Pada
tahun 1912 beliau berhijrah ke Lampoko
(Campalagian) bersama pamannya yakni KH.Muhammad Thahir (Imam Lapeo) yang
berhijrah ke Lapeo untuk menyebarkan dakwah islam.
Setelah KH.Muhammad Alwy, Tahun 1912 kepemimpinan dan pengajian
kittaq dipimpin oleh KH.Abd.Fattah
dibantu KH.Syahabuddin (Annangguru Hawu)
bin KH.Bukhari 1934 m, Namun pengajian dan dakwah mulai tidak stabil karena
Belanda yang mulai melakukan resolusi “Kerja Paksa”. Kedua Ulama tersebut
melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Pada saat itu tepatnya tahun
1934, menantu KH.Syahabuddin yang bernama Daenna Ma’ata selaku pejabat
pemerintah pambusuang mendatangi kantor kontroleur Belanda di Polewali,
mengajukan protes keras agar Belanda tidak sewenang-wenang dan menantang
pembuatan jalan poros Polewali Mamasa tanpa gaji. Sementara itu KH.Abd.Fattah
dan murid-muridnya dengan keberanian dan panggilan jihad, menghadang patroli
Belanda di Pambusuang, akibatnya KH.Abd.Fattah dan KH.Syahabuddin dijebloskan
kepenjara dan pengajian kittaq dilarang. Pada tahun 1934 ketika Sayyid Hasan bin Alwy bin Sahil (cucu Haji Toa)
menjadi imam menggantikan KH.Syahabuddin kembali melanjutkan dan memimpin
pengajian kittaq yang sempat dilarang oleh pemerintah Belanda, maka beliau
mengalihkan jejak pengajian dari politik melawan penjajah, pengajian diberi nama
Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), yang tetap menerapkan sistem halaqah.
diserambi mesjid. Sedangkan murid-murid pemula (setingkat ibtidaiyah) dilangsungkan
dirumah imam. Tapi ketika zaman penjajahan Jepan MAI tidak berjalan lancar.
Selanjutnya pada tahun 1944 muncul seorang cucu KH.Muhammad Nuh yang
bernama KH.Ahmad (bergelar Imam Janggo) putra KH.Muhammad Alwy, Setelah lama terjun dalam dunia pergerakan dan dunia politik yang memang dahulu dimasukinya. seperti organisasi Jami’atul Islamiyah, , ketika
beliau masih muda remaja (tahun 1929 menjadi anggota Partai Syarikat Islam
Indonesia, PSII). Di tahun revolusi, masuk KRIS Muda. Di tahun-tahun revolusi yang
berkecamuk itu jugalah, beliau menjelajahi pulau-pulau yang bertebaran di Selat
Makassar. Selalu berhubungan dengan salah satu pusat perjuangan di Jawa.. Ketika Imam Janggo menjadi imam dan kembali memimpin madrasah beliau mengganti
nama MAI untuk menghilangkan kesan arab menjadi Madrasah Diniyah Islamiyah (MDI),
namun dalam kepemimpinannya Imam Janggo masih menghubungi lagi “kaum extremis”
di Sulawesi Selatan. Terjadi di tahun 1947, 18 Agustus. beliau dan
kawan-kawannya menenggelamkan perahu musuh yang membawa senjata 12 pucuk.
Kawan-kawan beliau yang aktif di pulau-pulau Selat Makassar mempertahankan
kemerdekaann diantaranya Sayyidd Hasan bin Tahir dari Ternate (akhirnya
meninggal dalam penjara penjajah), Abdul Hakim dan Amin Slamet dari Goa. Keduanya
sebagai guru sekolah. Kemudian Imam Janggo (KH.Ahmad Alwy) hijrah ke Tinambung
dan menjadi Imam mesjid melanjutkan misi dakwah ayahandanya KH.Muhammad Alwy (Annangguru Kayyang To
Matindo di Masigi). Pada zaman
pemberontakan DI/TII, MDI tidak berjalan lancar karena gangguan dari dalam dan luar kota. Pada tahun 1968 (12 Rabiul Awal 1388 h) salah seorang cucu Haji Toa
yang bernama KH.Mochtar Husein yang berdomisili diUjung Pandang (Makassar)
kembali melanjutkan perjuangan pendahulunya dalam memimpin madrasah dan untuk
lebih meningkatkan system pendidikan di Pambusuang merubah nama MAI menjadi
Yayasan Pesantren “Nuhiyah” disingkat “YAPNUH”seperti sekarang ini.
Tabik,
Dibawah Kaki Gunung Lego
Dibawah Kaki Gunung Lego
MUSTAQIM ALWY

Tidak ada komentar:
Posting Komentar