Senin, 03 Februari 2020

SEJARAH SINGKAT PESANTREN “NUHIYAH” PAMBUSUANG SULAWESI BARAT

         Pambusuang adalah sebuah desa yang pada masa pemerintahan kerajaan berdiri pula menjadi kerajaan dalam wilayah kerajaan balanipa. Sepanjang masa berdirinya menjadi kerajaan, Pambusuang dikenal sebagai pusat pendiddikan Islam yang istilah Mandar-nya “Pangayiang Kittaq’ atau “pangayiang pondok”,yaitu suatu bentuk pendidikan dimana murid (santri) duduk bersilah dan melingkar menghadap “Annangguru” yang memberikan pelajaran.

           Sejarah pendidikan pendidikan keagamaan Islam di Pambusuang ini, berlangsung sejak awal abad ke 18 masehi hingga sekarang. Bangkitnya Pambusuang dalam mencetak ulama diwilayah kerajaan Balanipa, dimulai dari sejarah munculnya seorang ulama besar bernama “Syekh Adiyy”  digelar “Guru Gede” (Guru Besar) masyarakat Mandar menyebutnya “Guru Ga’de” membuka pengajian sistem kitab yang dipusatkan di langgar yang didirikannya sendiri sekitar tahun 1720 masehi.

          Syekh Adiyyi adalah seorang ulama penyebar islam dari tanah Jawa yang berdarah arab. setelah mendengar kabar para pedagang Mandar mengenai kerajaan Balanipa yang telah di islamkan  oleh Syekh Abd.Rahim Kamaluddin. Kedatangannya di kerajaan Balanipa disambut baik oleh pejabat kerajaan dan masyarakat yang memang telah lama menanti datangnya seorang ulama seperti Syekh Abd.Rahim Kamaluddin. Dalam rangka melaksakan tugasnya itu, Syekh Adiyy memilih Pambusuang (belum kerajaan saat itu) sebagai pusat kegiatan, dan disinilah ia menetap setelah mengawini seorang putri bangsawan dari Pappuangan Napo bernama “I Dhaerah”. kemudian mendirikan langgar sebagai pusat kegiatan pengajian yang kemudian dilanjutkan keturunannya. menurut KH.Mochtar Husein bahwa Syekh Adiyy adalah seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Jawa keturunan “Maulana Malik Ibrahim”sesuai surat dari Makkah yang ditulis oleh Abu Syahin, 1 Muharram 1402 H (1982).

         Pada dasarnya sistem pendidikan yang direalisasi oleh Syekh Adiyy pada masanya masih sangat sederhana dibanding dengan perkembangan selanjutnya. namun metode-metode yang digunakan dengan ikhtiar pendekatan serta upaya  perancanaan pandangannya justru dalam waktu kurang lebih 35 tahun (1720-1755 m) , Syekh Adiyy telah berhasil mempersiapkan kader-kader pelanjutnya yang mempermantap pendidikan keagamaan Islam sebagai gerakan Islamisasi.

         Setelah Syekh Adiyy (Guru Gede) wafat pada tahun 1755 m, kepemimpinan diambil alih oleh putranya bernama “Abdullah bin Adiyy”. Abdullah dengan kedalaman ilmu dan pengalamannya tidak kurang dari yang diwariskan ayahnya melalui pendidikan. pada masa Abdullah diadakan perluasan langgar. Dapat dikatakan, bahwa diperluasnya bangunan langgar yang dibarengi dengan bertambahnya santri pada masa Abdullah adalah merupakan peningkatan baru akan posisi Pambusuang sebagai pencetak Ulama di kerajaan Balanipa pada abad 18 m. Ini memberi arti tersendiri, sebab pada masa itu seluruh wilayah Mandar yang meliputi kerajaan-kerajaan "Pitu Ulunna Salu’ Pitu Babana Binanga", belum ada satupun yang membuka kegiatan pendidikan keagamaan Islam, kecuali kerajaan Balanipa dengan Pambusuang sebagai pusat.

          Setelah lebih 30 tahun Abdullah bin Adiyy mencurahkan tenaga dan fikiran dalam memimpin dan membina pengajian, maka pada tahun 1793 m beliau memenuhi panggilan Ilahi yang berarti tugasnya selaku pewaris Nabi berakhir, namun demikian putranya yang bernama ‘Maemana bin Abdullah yang bergelar Kanne’ Nannung Annangguru Matowa” melanjutkan pengajian peniggalan ayahnya. Pada masanya,yakni dari tahun 1793 sampai 1825 m, sistem pendidikan belum mengalami perubahan. walaupun demikian dari satu sisi , sistim pendidikan pada masa Maemana (Annangguru Matoa)  ini belum mengalami perubahan, namun jumlah aktifis pengajian memberi arti bahwa kesadaran generasi melalui wadah pendidikan merupakan modal dalam menyambut masa depan masyarakat Islam. setelah Memanah (Annangguru Matoa) wafat pada tahun 1825 m, pengajian kittaq dilanjutkan dan dipimpin putranya yang bernama “Syekh Abd.Wahhab” yang bergelar “Puayi Toa atau Hajji Toa” setelah dari Mekkah mempermantap ilmun dan pengalamannya 1823 m,

           Hajji Toa bin Maemana semasa aktif memimpin pengajian dari tahun 1825 sampai 1858 m, Pambusuang semakin nyata menjadi sentral studi islam di Mandar. .Menurut .KH.Mochtar Husein Hajji Toa-lah yang pertama mendirikan pesantren tradisional/(Pengajian Pondok/Pangayian Kittaq). Haji Toa pula yang merintis berdirinya Pambusuang sebagai kerajaan yang otonomi dari kerajaan Balanipa yang semula berstatus “Pappuangan” (wilayah hadat)  menjadi “Amaraqdiangan” atau “Arajang”, sekaligus menyelesaikan versus politik golongan antara Madippung dengan Daenna Rama yang dinilai dapat mengganggu lancarnya dakwah dan pendidikan. Maraqdia atau Arajang yang menjadi raja pertama kerajaan Pambusuang dari usaha Puayi Toa yang justru direstui oleh Hadat Tertinggi kerajaan Balanipa “Appeq Banua Kayyang” (Empat Negeri Besar) adalah “Daenna I lese”. sebagaimana tersebut dalam sisilah Hajji Toa berbunyi:
“Issangi majappu ripassalanna Daenna I Lese namuttama Arung ri Pambusuang, Ale-alenatu Hajji Toa lao ri tangnga-tangnga malai Arung, deq nasibawang sitarima” (Ketahuilah bahwa sesungguhnya Daenna I Lese diangkat menjadi Raja di Pambusuang adalah karena Hajji Toa-lah yang datang di Tangnga-tangnga mengambilnya, tanpa ada campur tangan dari siapapun golongan pribadi.”

           Sejak berdirinya kerajaan Pambusuang dengan rajanya yang resmi dan Haji Toa sebagai Kadhi justru menjadikan golongan ulama sebagai bagian dalam struktur pemerintahan yang disebut “Tomauwweng”, yakni penasehat bagi raja dan aparatnya dalam menjalankan pemerintahan.         Hajji Towa juga yang merealisasikan sistem Imam sebagai suatu jabatan yang hanya dapat dikendalikan oleh keturunan “Syekh Adiyy” dalam memimpin pengajian dimesjid dalam membina masyarakat islam untuk berpegang pada faham keagamaan yang tidak bervariasi yakni faham “Aqidah Ahlussunnah waljamaah dan bermadzhab Syafi’i” sebagaimana tercantum dalam sislsilah Hajji Toa yang berbunyi:
“Passalang, Pappasangnge Hajji Toa ri Pambusuang lao dzi anaq appona makkadai iko Hajji Lolo anrangnge topa Hajji Abd.Latif makkadai naiyya ripassalanna Akkeimangange ri pambusuang sisulle-sulleiwi iko manang mappadaoroane…. Naiyya idiq manang mula jaji idiq rimunrie ripakkuamotoni risisulle-sulleitoni pahang”.(Fasal,Pesan Hajji Toa kepada anak cucunya, engkau Haji Lolo (KH.Muhammad Nuh) dan juga Hajji Abd.Latif, Sesungguhnya hak imam di Pambusuang adalah hak kalian semua bersaudara…,Ketahuilah bahwa kitalah semua yang mula pertama dan kita pulalah yang terakhir punya hak imam serta satu dalam faham pemikiran (Aqidah Alussunnah waljamaah madzhab Syafi’i).

            Adapun ulama (Annangguru) yang dicetak oleh Hajji Toa mengenai sistem pendidikan yang diterapkan tersebut diatas adalah KH.Muhammad Nuh (bergelar Hajji Lolo putra pertamanya), KH.Abd.Latif (Kanneq Payi), KH.Bukhari, KH.Abd Salam, KH.Abd.Fattah, KH.Muhammad Ali, KH.Abd.Mu’thi, KH.Muhammad Thahir (Imam Lapeo) KH.Daeng, KH.Madeppungan, KH.Hida        (ayahanda KH.Muhammad Shaleh), Daenna I Lese (Maraqdia Pambusuang) dll. Para ulama inilah yang melanjutkan usaha Hajji Toa dalam mempolopori pendidikan dan pembinaan masyarakat islam di daerah Mandar.

             Pada tahun 1858 Haji Toa wafat, pengajian Kittaq dipimpin putra pertamanya KH.Muhammad Nuh yang bergelar Haji Lolo dibantu saudaranya bernama KH.Abd.Latif dan putranya yakni KH.Muhammad Alwy (bergelar Annangguru Kayyang To Matindo di masigi), di zaman inilah berdatangan orang arab keturunan sayyid diantaranya bernama Habib Alwy bin Sahil al-Jamalullail dari lasem dan kawin dengan Sitti Rabi’ah  (cucu Haji Toa) dan melahirkan putra bernama Habib Hasan yang bergelar Puang Lero, Habib Muhammad al-Ahdal Syekh Abd.Rauf al-Madani (Mursyid Thariqah Sattariyah), sehingga pengajian Kittaq mencapai puncaknya dengan gemilang. Masa inilah Pambusuang dibanjiri masyarakat dari berbagai daerah. Di zaman ini pula dimulai ritual “Ratib Samman”(Rate Samman) yang dibawa dan diperkenalkan oleh KH.Muhammad Alwy  setelah dari Mekkah, Shalat Lailatul Qadar,  Shalat Salle Kalla. Demikian juga Totamma (Tamat mengaji al-Qur’an) diarak dengan kuda menari, rebana, qashidah, jeppeng, dan lagu-lagu yang bernafaskan dakwah. Setelah KH.Muhammad Nuh wafat 1866 m dan KH.Abd.Latif wafat 1882 Kepemimpinan dan pengajian Kitta dilanjutkan KH.Abd.Salam tepatnya pada tahun 1882 sampai wafat pada tahun 1902 m kemudian dilanjutkan oleh KH.Muhammad Alwy,  Pada tahun 1912 beliau berhijrah  ke Lampoko (Campalagian) bersama pamannya yakni KH.Muhammad Thahir (Imam Lapeo) yang berhijrah ke Lapeo untuk menyebarkan dakwah islam.

             Setelah KH.Muhammad Alwy, Tahun 1912 kepemimpinan dan pengajian kittaq  dipimpin oleh KH.Abd.Fattah dibantu KH.Syahabuddin (Annangguru Hawu)  bin KH.Bukhari 1934 m, Namun pengajian dan dakwah mulai tidak stabil karena Belanda yang mulai melakukan resolusi “Kerja Paksa”. Kedua Ulama tersebut melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Pada saat itu tepatnya tahun 1934, menantu KH.Syahabuddin yang bernama Daenna Ma’ata selaku pejabat pemerintah pambusuang mendatangi kantor kontroleur Belanda di Polewali, mengajukan protes keras agar Belanda tidak sewenang-wenang dan menantang pembuatan jalan poros Polewali Mamasa tanpa gaji. Sementara itu KH.Abd.Fattah dan murid-muridnya dengan keberanian dan panggilan jihad, menghadang patroli Belanda di Pambusuang, akibatnya KH.Abd.Fattah dan KH.Syahabuddin dijebloskan kepenjara  dan pengajian kittaq dilarang. Pada tahun 1934 ketika Sayyid Hasan bin Alwy bin Sahil (cucu Haji Toa) menjadi imam menggantikan KH.Syahabuddin kembali melanjutkan dan memimpin pengajian kittaq yang sempat dilarang oleh pemerintah Belanda, maka beliau mengalihkan jejak pengajian dari politik melawan penjajah, pengajian diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), yang tetap menerapkan sistem halaqah. diserambi mesjid. Sedangkan murid-murid pemula (setingkat ibtidaiyah) dilangsungkan dirumah imam. Tapi ketika zaman penjajahan Jepan MAI tidak berjalan lancar.

            Selanjutnya pada tahun 1944 muncul seorang cucu KH.Muhammad Nuh yang bernama KH.Ahmad (bergelar Imam Janggo) putra KH.Muhammad Alwy,  Setelah lama terjun dalam dunia pergerakan dan dunia politik yang memang dahulu dimasukinya. seperti organisasi  Jami’atul Islamiyah, , ketika beliau masih muda remaja (tahun 1929 menjadi anggota Partai Syarikat Islam Indonesia, PSII). Di tahun revolusi, masuk KRIS Muda. Di tahun-tahun revolusi yang berkecamuk itu jugalah, beliau menjelajahi pulau-pulau yang bertebaran di Selat Makassar. Selalu berhubungan dengan salah satu pusat perjuangan di Jawa.. Ketika Imam Janggo menjadi imam dan kembali memimpin madrasah beliau mengganti nama MAI untuk menghilangkan kesan arab menjadi Madrasah Diniyah Islamiyah (MDI), namun dalam kepemimpinannya Imam Janggo masih menghubungi lagi “kaum extremis” di Sulawesi Selatan. Terjadi di tahun 1947, 18 Agustus. beliau dan kawan-kawannya menenggelamkan perahu musuh yang membawa senjata 12 pucuk. Kawan-kawan beliau yang aktif di pulau-pulau Selat Makassar mempertahankan kemerdekaann diantaranya Sayyidd Hasan bin Tahir dari Ternate (akhirnya meninggal dalam penjara penjajah), Abdul Hakim dan Amin Slamet dari Goa. Keduanya sebagai guru sekolah. Kemudian Imam Janggo (KH.Ahmad Alwy) hijrah ke Tinambung dan menjadi Imam mesjid melanjutkan misi dakwah ayahandanya KH.Muhammad Alwy (Annangguru Kayyang To Matindo di Masigi). Pada zaman pemberontakan DI/TII, MDI tidak berjalan lancar karena gangguan dari dalam dan luar kota. Pada tahun 1968 (12 Rabiul Awal 1388 h) salah seorang cucu Haji Toa yang bernama KH.Mochtar Husein yang berdomisili diUjung Pandang (Makassar) kembali melanjutkan perjuangan pendahulunya dalam memimpin madrasah dan untuk lebih meningkatkan system pendidikan di Pambusuang merubah nama MAI menjadi Yayasan Pesantren “Nuhiyah” disingkat “YAPNUH”seperti sekarang ini.
 
Tabik,
Dibawah Kaki Gunung Lego
MUSTAQIM ALWY

  Sumber: Skripsi Sahabuddin A El-Maknun (1986), Mengenal Pesantren Nuhiyah (1995) KH.Mochtar Husein, Silsilah Syekh Adiy (1253 h), Imam Janggo Pioner Pesuteraan Mandar(1973) Suradi Yasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam Janggoq Pionir Persuteraan di Mandar

Imam Janggoq, tengah mengenakan surban Orang tua ini, berkulit hitam kemerah-merahan, pipinya berkerut-kerut, ...